Essay Krisis Pendidikan Karakter di Indonesia

Essay “Krisis Pendidikan Karakter di Indonesia”

Oleh: Achmad Fadhil Firmansyah

Akhir-akhir ini banyak berita tentang penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pelajar. Dengan akses internet yang mudah, saat ini kita dapat melihat permasalahan yang terjadi pada pelajar di Indonesia. Melalui internet, beberapa tahun bahkan beberapa bulan belakangan ini, kita banyak melihat banyak kasus seperti bullying oleh pelajar SD, SMP, bahkan SMA, kasus pemerkosaan oleh pelajar, hamil di luar nikah, narkoba, tawuran, tidak sopan, tidak bisa saling menghargai danlain-lainnya. Tidak hanya pelajar, perilaku-perilaku menyimpang juga dilakukan oleh para elite politik yang kabarnya santer terdengar telah terjerat kasus korupsi, perzinahan, saling tuduh dan menebar berita bohong antar elite, dan lain sebagainya. Sebelum membahas lebih jauh, penulis akan sedikit memberi penjelasan mengenai pendidikan karakter.

Pendidikan menurut Undang-Undang Dasar Nomor 20 Tahun2003 Pasal 1 Ayat 1 mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sebenarnya, pendidikan karakter khas Indonesia sudah tertanam dalam Pancasila. Lima sila dasar negara ini memiliki makna yang dalam untuk menciptakan karakter bangsa. Dari mana akar masalahnya? Dalam menghadapi tantangan ini, peran keluarga, peran sekolah, peran guru, peran pemerintah, media massa dan lingkungan sangat penting perannya dalam pembentukkan karakter. Sosialisasi utama seorang anak adalah keluarganya. Dengan keluarga yang menerapkan atau menanamkan karakter yang baik, maka akan membentuk karakter anak yang baik. Pengawasan orang tua kepada anak di era modern seperti sekarang ini juga sangat penting dan harus intens karena hadirnya gadget. Dengan gadget ini, banyak yang dapat diakses seorang anak yang jika tidak ada filter dalam pengawasan dan pembekalan nilai-nilai akhlak yang baik, gadget ini akan membentuk karakter negatif kepada seorang individu. Ketika memasuki sekolah, lingkungan pun juga ikut berperan dalam pembentukan karakter ini, terutama guru.

Guru juga merupakan orang tua yang ada di sekolah dan sangat berpengaruh perannya dalam pembentukan karakter individu. Namun, seringkali, guru secara perlahan mematikan karakter baik yang ada dalam diri individu. Seringkali guru mematikan kepercayaan diri seorang anak, lebih melihat hasil akhir atau nilai dalam ujian atau PR sebagai indikator dari kecerdasan tanpa menghargai proses yang dilakukan individu dan juga kurangnya menanamkan nilai-nilai karakter yang ada dalam pancasila. Pancasila hanya diajarkan sebagai hafalan dan tidak dimaknai dan diimplementasikan dengan baik. Akibatnya dari hal kecil ini, menimbulkan bibit-bibit koruptor, mudah berbohong, dan sebagainya. Tayangan-tayangan di televisi pun juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter. Disini juga pemerintah harus berperan dalam mengadakan acara atau tontonan televisi yang baik dan mendidik untuk anak. Pemerintah juga harus menjadi contoh dan tokoh yang berkarakter baik dan bermoral untuk rakyatnya. Semua aspek saling berkaitan dan berperan penting, seperti yang dikatakan oleh Talcott Parsons tentang teori Fungsionalisme, bahwa semua memiliki peran dan saling mempengaruhi.

Sayangnya, arus globalisasi yang deras ini, belum mampu dibentengi dengan pendidikan karakter yang baik, cenderung diabaikan atau bahkan perlahan mati. Oleh sebab itu, perlu adanya kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk masa depan bangsa yang baik. Pendidikan yang diinginkan oleh Ki Hadjar Dewantara dimana pendidikan harus ditanami dengan nilai-nilai kemanusiaan yang baik. Juga pendidikan yang dikatakan oleh Tan Malaka bahwa Pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Pendidikan memang penting untuk terciptanya kecerdasan. Namun kecerdasan tanpa karakter atau akhlak yang baik, maka kecerdasan itu akan sia-sia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top