Bantul (MIN 1 Bantul) – Ratusan siswa MIN 1 Bantul melakukan aksi nyata dalam memahami bahaya dunia digital. Pada Rabu (10/12/2025), suasana GTV Transmart tampak meriah saat siswa kelas 2, 4, 5, dan 6 berkumpul untuk menyaksikan film bertema Cyber Bullying.
Kegiatan “Nonton Bareng” (Nobar) ini bukan sekadar rekreasi, melainkan langkah preventif madrasah dalam membekali siswa menghadapi sisi gelap media sosial. Tak hanya siswa, perwakilan pengurus Paguyuban Orang Tua (POT) dari masing-masing kelas juga turut hadir, menunjukkan sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga dalam mengawasi tumbuh kembang anak di era digital.

Kepala MIN 1 Bantul, Agus Sehono, menyampaikan bahwa edukasi melalui media visual jauh lebih efektif bagi anak-anak zaman sekarang dibandingkan sekadar ceramah di dalam kelas.
“Kami ingin siswa paham bahwa jempol mereka bisa menjadi penyelamat atau justru penyayat hati orang lain. Dengan melihat langsung visualisasi dampak cyber bullying, kami berharap muncul rasa empati yang tinggi. Kehadiran pengurus POT juga krusial, karena pengawasan utama ruang digital anak tetap ada di tangan orang tua di rumah,” ungkapnya.
Antusiasme juga terpancar dari wajah para siswa. Salah satu siswa kelas 6, Axelle, mengaku mendapatkan pandangan baru mengenai cara berkomunikasi di internet.
“Awalnya saya pikir berkomentar lucu-lucuan di medsos itu biasa saja, tapi setelah nonton film tadi, saya jadi sadar kalau komentar negatif itu sangat menyakitkan bagi korbannya. Saya jadi lebih takut dan hati-hati kalau mau posting atau komentar apa pun,” ujar Axelle dengan penuh kesadaran.
Agenda nobar ini bukan sekadar kegiatan nonton film bersama, melainkan sebuah starting point bagi MIN 1 Bantul untuk membangun ekosistem digital yang lebih sehat. Dengan kolaborasi apik antara pihak madrasah, siswa, dan orang tua, diharapkan semangat anti-perundungan ini terus menggema dari bangku sekolah hingga ke jagat maya. Karena pada akhirnya, menjadi cerdas di era digital bukan soal seberapa canggih gadget yang dimiliki, melainkan seberapa besar empati yang mampu diberikan melalui ujung jari. (and)